PEMBANTAIAN 37 PEJUANG DI LEMBAH ANAI

 Lembah Anai dan Keindahannya


Jika dengan teman-teman sama sekolah saya pergi melihat keindahan air terjun di Batang Anai atau mendaki Bukit Tuai, atau Gua Batu Sungai Anduk, bila masa saya melihat keindahan ciptaan alam itu, saya ingat alangkah senang hati Zainab jika ia turut melihat pula. itulah sepenggal percakapan di Novel Hamka "dibawah Lindungan Ka'bah. bagaimana menggambarkan keindahan alam yang ada di Lembah Anai.

Zaman dahulu di zaman Penjajahan Belanda, Lembah Anai adalah salah satu daerah penghubung antara Padang - Padang Panjang. di zaman tersebut dibangun Jalan sepanjang 17 Km dikerjakan secara paksa oleh Belanda. setiap orang yang melewati dibebani iuran (kloofgelden ) itu sebesar 6 Gulden Belanda.

Dibalik keindahan alam yang ada di Anai, terdapat sebuah cerita kekejaman Belanda terhadap warga Desa Ladang Lawas, Anai. kejadian ini terjadi di era masa Revolusi, tepatnya saat Agresi Militer Belanda II, kawasan ini menjadi basis perlawanan para pejuang Republik untuk menghambat laju pasukan Belanda yang hendak menuju Padang Panjang dan Bukitinggi dari Kota Padang.


                                            Gambar1: Lembah Anai Tempo Dulu


Pembantaian 37 Pejuang Rakyat Desa Ladang Laweh

19 Desember 1948 di Sumatera Barat umumnya, Belanda mulai melancarkan aksinya dengan menyebarkan pamflet-pamflet yang menyatakan bahwa
Perjanjian Renvile tidak berlaku lagi. mereka mulai mengekspansi daerah-daerah disekitar Padang Panjang, Batusangkar untuk menjalankan agresi militer Belanda II.

namun, Tentara dan Rakyat telah mempersiapkan basis pertahanan di berbagai daerah. Pada tanggal 22 Desember 1943 pasukan Republik Indonesia yang terdiri dari kompi berantai mulai bergerilya ke Padang Panjang dan Batusangkar sekitarnya.

daerah Ombilin dan Kubu kerambil. Kubu Kerambil inilah dilakukanpenyerangan terhadap musuh di Padang Panjang dan sekitarnya, sehingga Belanda berkali - kali berusaha menyerang daerah sekitar Batipuh tetapi selalu dapat dibendung, bahkan seorang intelijen bangsa Belanda hilang

Kejadian ini tentu membuat belanda berang dan dendam atas banyaknya personil mereka yang hilang dan mati. kegiatan ini lantas membuat Belanda menjadi menyasar beberapa daerah di Anai untuk diberangus. Sasaran Belanda adalah desa Ladang Lawas yang merupakan salah satu basis perjuangan Batipuah. Pasukan Belanda dalam jumlah besar telah melakukan penembakan sebelum memasuki desa Ladang Lawas.

Pasukan Belanda kemudian meneruskan perjalanan ke desa Ladang Lawas, setiap pemuda yang ditemui ditangkapnya dan disertai pembakaran rumah. Penangkapan pemuda tersebut terjadi 24 Maret 1949, yang bermotifkan dendam. Pemuda - pemuda tersebut juga berasal dari Padang Panjang. Jumlah pemuda yang ditangkap sebanyak 150 orang

Dasar pemeriksaan kesalahan pemuda tersebut dibagi atas tiga kategori ;Kategori pertama merupakan pemuda yang dianggap Belanda sangat membahayakan, mereka ini dibawa ke Kayu Tanam. Kategori kedua merupakan pemuda yang dianggap memata - matai Belanda, dibawa ke Balai Balai Padang Panjang. Kategori ketiga merupakan pemuda yang
dianggap tidak dirasa membahayakan dan kemudian dibebaskan.

Pemuda yang termasuk di dalam kategori berbahaya berjumlah 40 orang. Kira-kira pukul 05.00 WIB pagi tanggal 25 Maret 1949 ke 40 orang pemuda tersebut dibawa ke Kampung Tangah kemudian mereka diperiksa dan disiksa dengan tidak berperikemanusiaan. Sekitar pukul 5.30 WIB seluruh pemuda dibawa ke kayu Tanam. Di sana telah disediakan sebuah lubang untuk para tawanan tersebut. Ke 40 orang pemuda itu sampai di Kayu Tanam langsung ditembak, dan orang pejuang selamat dan melarikan diri.

Penemuan Tengkorak Mayat

Pasca Belanda menyerah dan berakhirnya agresi Belanda di Indonesia, maka warga-warga sipil yang ditahan dibebaskan. Biasanya orang - orang yang ditangkap Belanda segera diketahui di mana penjaranya, tetapi yang ini tidak, sehingga menimbulkan tanda tanya bagi masyarakat. Keraguan masyarakat baru terjawab dengan ditemukannya tengkorak- tengkorak manusia disekitar hutan Lembah Anai. Akhirnya terungkap juga bahwa tengkorak - tengkorak itu merupakan jenazah penduduk Desa Ladang Lawas yang dibunuh oleh Belanda secara kejam dan dibuang tanggal 25 Maret 1949.


    


Gambar 2 dan 3: Tugu Penghormatan bagi Pejuang


Sumber:
1. Letnan Kris Noormatias
2. Sejarah Tanah Datar - Pemda Tk II Tanah Datar 1995.

Comments

Popular posts from this blog